Pelacakan statistik Histats (pixel transparan)

Kamus jasa konstruksi

Jenjang Kualifikasi SKK (KKNI)

Ringkasan edukatif dari Indotender.co.id untuk tim procurement & pelaksana lapangan. Istilah di dalam teks yang cocok dengan entri kamus lain, klasifikasi SBU, atau KBLI dapat ditautkan otomatis ke referensi terkait.

Jenjang Kualifikasi SKK Konstruksi mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang membagi kompetensi tenaga kerja ke dalam 9 jenjang, dari jenjang 1 (terendah) hingga jenjang 9 (tertinggi). Dalam konteks konstruksi, jenjang 1–4 untuk Operator, jenjang 4–6 untuk Teknisi/Analis, dan jenjang 6–9 untuk Ahli. Setiap subklasifikasi SBU mensyaratkan SKK pada jenjang minimum tertentu.

Penetapan jenjang KKNI dalam konstruksi diatur melalui SKKNI yang ditetapkan oleh Kementerian Ketenagakerjaan atas usul Kementerian PUPR, sebagaimana dimandatkan dalam PP No. 14 Tahun 2021. LSP yang melaksanakan uji kompetensi wajib menggunakan skema sertifikasi yang telah diregistrasi di BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sesuai jenjang KKNI yang relevan.

Implikasi jenjang KKNI bagi perusahaan konstruksi terletak pada persyaratan PJBU dan PJT: kualifikasi usaha Besar (B2) mensyaratkan PJBU dan PJT dengan SKK pada jenjang yang lebih tinggi dibanding kualifikasi Kecil. Investasi dalam pengembangan tenaga ahli ke jenjang SKK yang lebih tinggi merupakan prasyarat struktural untuk peningkatan kualifikasi usaha—bukan sekadar formalitas administratif yang dapat dipenuhi mendekati deadline perpanjangan SBU.

Redaksi & otoritas

Entri ini disusun oleh tim redaksi PT. ASTRA MANAJEMEN SOLUSI berdasarkan praktik pengadaan dan sertifikasi badan usaha jasa konstruksi di Indonesia. Untuk keputusan hukum dan persyaratan resmi, rujuk LPJK Kementerian PUPR, portal LPSE instansi terkait, dan peraturan perundangan yang berlaku.

Profil penerbit: Tentang Indotender.co.id · Konsultasi SBU & tender

Sumber & pembaruan

Istilah ini disusun agar konsisten dengan praktik pengadaan dan sertifikasi badan usaha jasa konstruksi di Indonesia. Jika ada perbedaan dengan dokumen resmi instansi, yang berlaku adalah dokumen resmi tersebut.